My Photo

June 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30          

Visa, Pasport

Hidup memang lucu.

Hari ini saya ada appointment dengan Keduataan Italia. Jam 11. Setelah semua perjuangan (halah, berlebihan!) mempersiapkan dokumen-dokumen persyaratan….akhirnya saya berhasil di-interview dan dengan sukses DITOLAK!

Oke, emang salah saya juga sih, ga teliti. Karena ga perhatikan tanggal expired pasport, yang ternyata akhir tahun ini. Sedangkan memang persyaratan kunjungan itu minimal pasport berlaku 3 bulan setelah waktu perjalanan. Jadi Bapak yang di kedutaan itu dengan dingin mengembalikan semua berkas saya. Masih untung dia belum minta pembayaran visa. Dia bilang, setelah paspor diperpanjang, baru boleh bikin appointment dan apply lagi.

Jelas langsung bete berat. Mana masih cape, masih belum puas tidur, sempet nyasar waktu nyari kedutaan ini, ga bisa log-in ke website nya kedutaan Italia… pokoknya jengkel! Dan saya pusing mikirin semua pesawat dan tempat yang udah dibooking, dan juga asuransi perjalanan. Kalau batal berangkat ga lucu. Jadi ingat salah satu quote-nya Randy Pausch "The brick walls are there for a reason. The brick walls are not there to keep us out. The brick walls are there to give us chance to show how badly we want something"

Akhirnya dari Victoria Station saya ke Marble Arch, terus ke Kedutaan Indonesia.  Ternyata tempat urus pasport bukan di situ, tapi di gedung di belakangnya. Agak-agak ajaib gitu tempatnya, kalau mau urus paspor di London nanti saya kasih tahu deh :) Tapi ternyata Bapak yang urus ini baik banget. Dia kan nanya, kenapa saya ga lapor waktu datang (dan saya baru tahu kalau harus lapor setelah baca pengumuman di tembok gitu)… Ampuuun Pak :p Saya berdalih bahwa ga tahu, dan dia cuma nyengir (mungkin entah sudah berapa puluh pelajar yang beralasan seperti itu). Terus dia kasih semua formulir yang harus diisi (termasuk formulir lapor kedatangan tadi… hehe)

Giliran harus kasih foto, bingung lagi jadinya. Ternyata background nya harus merah ya. Bapak ini senyum lagi, terus bilang bahwa kalau keluar dari kantor ini, terus ke pojok jalan ada restoran, nah di sebelahnya ada farmasi. Tanya aja di situ. Pas saya ke sana, benar juga. Di belakang kasir ada ruangan kecil untuk pas foto kilat. Fotografer nya cuma bilang : "for Indonesia Passport ?" Terus udah deh, difoto. Dia malah nanya saya mau ambil foto yang mana (padahal tahu kan, foto pasport mana ada yang bagus). Setelah bayar (sekitar 6 pound) saya balik lagi ke kantor tadi. Terus Bapak tadi periksa-periksa lagi. Minta cap jempol kanan (pantas ada bantalan stempel gitu di loket) dan kasih saya tanda terima buat ambil pasport minggu depan. Terus dia tempel secarik kertas yang menyebutkan bahwa semua pambayaran sekarang harus lewat postal order atau bank draft, ga boleh lagi pakai cash. Tapi bayarnya sih masih minggu depan, jadi masih ada waktu.

Sepulang dari kedutaan tadi, naik bis niat balik ke rumah. Tiba-tiba di tengah jalan sopir bis berubah pikiran, jadi bis hanya sampai Tottenham Court Road, ga sampai King Cross. Jadi masih harus jalan lagi, lumayan jauh. Terus kebetulan ada kantor pos, jadi sekalian beli postal order tadi (20 pound + 1.75 pound charge). Beres!

Pikir-pikir….memang selalu ada hikmahnya ya. Coba kalau saya ga urus  perpanjangan paspor sekarang, kemungkinan training di salah satu negara maju di Asia bulan Oktober-November nanti bisa juga batal...

                            

Pray for me?

I was amazed with the things I learned in 9 months… but I feel even more surprised with the things I learned in 3 weeks. I think we will never know how well people cope with difficult situation under huge pressure.

My room looks very messy at the moment… well, I know, I am not a tidy person anyway, but now it’s worse. Not nice. I just want it finish. I want to have a nice sleep without dreaming about writing essay, writing exam, attending group debate, presenting in front of strangers etc etc…

The good thing is; it is not a multiple choices exam. I hate multiple choices. The tricks that lie beneath the possibly answers. There is mark’s deduction if you keep it blank, or choose the wrong answer. I think it does not reflect your knowledge. Fifty questions in 1.5 hours? Go figure…

Therefore, 4 questions in 3 hours seem more reasonable, and another 3 hours in the second day. Although that means 4 short essays (plus calculating all formulas)..about 2,500 word, in English (but of course! What do you expect, my dear?) Will be very interesting ;)

One of my friends (the student’s representative) sent us email… she said, “..And above all, remember that you are bright, insightful people who have done amazing things in the world and will do even more incredible things in the future.  You also can write these exams well…” Very encouraging. Thanks a lot M!

I have put a card on my wall. Like a self-help mantra. I passed the exams with very good grade.

With God’s help. Friends, pray for me? :)

Puasa baca berita

Saya dan grup belajar saya belajar bersama tadi siang. Kami membahas soal-soal ujian 2 tahun lalu, salah satunya tentang vaksinasi di Lombok. Saya sempat  kehilangan kata-kata ketika satu teman membahas betapa kompleksnya kondisi di Indonesia. Untuk modul yang terakhir, dia melakukan riset tentang Indonesia karena topik penelitian dia adalah soal bidan dan kaitannya dengan penurunan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Melihat dan mendengar “orang lain” yang dengan fasihnya membahas negeri saya tercinta, termasuk memberikan langkah-langkah untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi… membuat saya tercekat. Terharu. Mungkin sulit buat dipercaya, tapi melihat BUKAN warga negara ini dengan begitu semangat mencoba memberikan solusi untuk persoalan bangsa ini… Yah, mungkin saya terlalu sentimentil…

Masalah sudah sedemikian banyak, kenapa tidak berkonsentrasi pada pemecahannya saja? Bahkan untuk itu pun masih dibutuhkan kerja sama yang kuat dan kerja yang sangat keras. Saya benar-benar tidak bisa mengerti.

Teman satu gedung di sini menanyakan soal berita penyebaran uang dari atas pesawat di Indonesia (?). Saya bilang, saya tidak tahu. Sedang puasa baca berita tentang Indonesia, sedang malas. Terakhir baca tanggal 1 Juni lalu dan itu membuat saya mual. Sungguh.

What a day!

I woke up on Sunday Morning at 8am. The first thought in my mind was my exam in next 2 weeks. But I was sooo tired, try to remember what happened yesterday. It was crazy!

After lunch, I decided to join the walk in my neighboring areas,Bloomsbury. We started the walk in Holborn tube station and it was ended in  British Museum . I knew that Bloomsbury is famous with many British Writers, but yesterday I realised there are sooo many! Virginia Woolf is one of them, but definitely is one of the famous. I was surprised that she was living in the same building, where I was taking my last modules. I also learned that my university (UCL) is the first uni in England that accepted woman student and allowed woman as a professor. Our walk’s guide was very good (thanks god now it is not difficult for me to understand that thick British’s accent hehe). I felt satisfied with the walk.

In the evening, my friend invited me to join him attending the Irish’s music concert. We had light supper first, and if you know me (sure you do!), you know very well who was cooking. We are approaching the summer thus the days are longer. It was still bright when we reached Irish Cultural Centre in Hammersmith  The opening performance was brilliant (and those 2 young men are handsome too!) and the main band, Solas, was fantastic! One guy can play 5 instruments during the concert. I am jealous. How can people have such talent?

When we were going back to the tube station, I realised that we will have a very interesting night. The new major of London issued the new regulation that ban drinking – and carrying the open container – beverage contains alcohol in the public transportation (tube, bus, train, DLR) per 1 June 2008. As a result, many people (=thousands) arranged party in the tube in the night before, as a protest. I understand that people can drink “responsibly” but if you see what happened yesterday, I also understand why Boris Johnson issued this “unpopular” regulation. The party mostly happened in Circle Line, but the line was cancelled and some tube stations were closed. The crowd then jumped to other lines, including my line. It was interesting to see that drunken peoples can behave differently. Young man from the states asked why I didn’t join the party and show me the pictures that he was taking by his Iphone, as if we are very good friends for ages. And the other groups in  my left side just started the random topic about film and ended up hugging each others because they have similar interest :D Funny. And it was not finish, because when we walked to my accommodation, we show a group of people wearing Batman and Robin costumes and they screamed happily to us :D I think the police and tube officers were very busy. What a day!

But for now...

But for now
Jamie Cullum

Sure I know you’d like to have me
Talk about my future
And a million words or so to fill you in about my past
Have I sisters or a brother
When’s my birthday how’s my mother
Well my dear in time I’ll answer all those things you ask

But for now I’ll just say I love you
Nothing more seems important somehow
And tomorrow can wait come whatever
Let me love you forever but right now
Right now

Some fine day when we go walking
We’ll take time for idle talking
Sharing every feeling as we watch each other smile
I’ll hold your hand you’ll hold my hand
We’ll say things we never had planned
Then we’ll get to know each other in a little while

But for now let me say I love you
Later on there’ll be time for so much more
But for now meaning now and forever
Let me kiss you my darling then once more
Once more

But for now let me say I love you
Later on I must know much more of you
But for now here and now how I love you
As you are in my arms I love you
I love you
I love you

Berpikir

London dingin sekali hari ini, dan hujan. Saya menggigil karena hanya menggunakan t-shirt dan sweater. Sok jago. Ramalan cuaca bilang temperatur hari ini sekitar 8 derajat. Gila. Setelah minggu lalu sempat 27 derajat dan 2 hari lalu drop menjadi 12 derajat. Saya sudah cukup lelah dengan diri sendiri yang sangat moody.. dan perubahan cuaca di sini hanya memperparah kondisi saja. Sambil berjalan, dari sudut mata saya melihat banyak orang yang merokok di luar gedung… Tidak tertarik sama sekali. Pikiran saya tidak berada di sini.

Dua hari lalu saya dan 2 teman mengobrol seru sekali. Satu asal Kanada (A) dan satu asal Afganistan (F). A baru kembali dari Oxford setelah mendapat panggilan interview dan melakukan presentasi untuk salah satu tawaran perkerjaannya.. dan F bercerita tentang diploma tropical medicine yang baru dia dapat (satu lagi contoh gila teman-teman di sini… alih-alih “Easter break”, dia malah mengambil kursus singkat untuk ambil diploma ini). Kebetulan saat itu saya sedang pakai sweater dengan lambang salah satu lembaga PBB untuk anak-anak, jadilah kami mengobrol mengenai rencana setelah lulus. Topik lama yang selalu baru. Namun teman F ini memberikan opini yang membuat kami berpikir.

A menanyakan pendapat kami tentang tawaran pekerjaan yang dia terima. Sebenarnya sangat menarik, tapi dia masih kurang sreg karena dia inginnya bekerja untuk perencanaan, monitoring, evaluasi. Do the right thing since the very beginning. Dia memang pernah bercerita soal proyek dia (nutrisi) dengan sebuah institusi pendidikan yang kacau balau gara-gara tidak melakukan konsultasi dengan masyarakat. Bukan salah dia kareana dia bergabung setelah proyek berjalan, tapi dia bisa dibilang menjadi “martir” karena harus berhadapan dengan masyarakat dan menjelaskan semua hal ketika keadaan menjadi parah. Nah, kalau F ini lain lagi. Saya salut sama dia karena dia masih sangat sopan dan bijak walaupun kami tahu dia sangat marah soal “invasi” yang terjadi di negaranya, bahkan sampai sekarang. F ini dokter anak. Dia beralih ke public health karena dia melihat kebutuhan yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir. Dia bilang, walaupun punya rencana jangka panjang, dia tidak bisa berencana terlalu lama, misal 10 tahun. Harus fleksibel. Coba lihat apa yang terjadi di Afganistan dalam 5 tahun terakhir. Dia ga bilang bahwa semua rencana dia berantakan… tapi dia bilang bahwa kita selalu harus siap dengan perubahan. Suatu hal yang sangat diresapi kebenarannya (apalagi kami berdua sama-sama belajar tentang “conflict and health” semester lalu).

Mantan bos pernah “mengajari” saya menggambar peta soal pilihan-pilihan hidup. Salah satu alasan kenapa sekarang saya ada di sini, dan kemana kira-kira arah setelah lulus. Tapi entahlah, tadi malam banyak sekali hal yang beradu dalam pikiran saya. Beberapa hal penting yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir membuat saya berpikir untuk mendisain ulang peta saya. Tapi terus kemana? Bagaimana? Apakah saya berani? Apa saya siap?

Dan hujan masih saja turun dan saya masih  terus berjalan. Deep sigh.

Practice make perfect

Saya saat ini memang mempunyai 2 buah hp. Satu siemens M55 yang saya beli tahun 2003 (untuk nomer indonesia yang bisa roaming internasional) dan satu lagi siemens A70 yang saya beli tahun 2007 di Sorong (untuk nomer inggris). Alasan ga ganti karena sekarang siemens udah ga ada :) Ga sih, karena merasa ga perlu aja. Toh keduanya masih bisa dipakai dan saya ga merasa perlu dengan aplikasi-aplikasi yang canggih.

Tapi kalau kemampuan mengetik untuk sms, DULU saya terbilang jago. Mengetik lebih cepat dengan tangan kiri, bahkan bisa mengetik sambil makan, sambil mengobrol, ngetik sms berbeda dengan dua tangan (seperti jurus film silat).. pokonya parah deh ! Sampai pernah jempol tangan kiri sakit karena kebanyakan  sms :D Kalau ga salah itu sehabis sms yang menghabiskan 70 ribu dalam sehari hehe

Nah, di sini saya jarang sekali pake hp, termasuk sms. Alasan banyak… mahal, juga ga ada waktu sih. Jaraaaang banget pake hp. Kan nelepon ke indonesia pake phonecard (pake landline) yang murah banget. Sms temen… sms siapa ? Beda waktu bikin malas. Hubungi teman di sini, lebih cepet pake email atau messenger. Jadinya  sering lupa punya hp, kadang sampai berhari-hari mati karena ga di-caz juga tenang-tenang saja (padahal kalo inget dulu bisa bete banget seandainya ga ada sinyal haha)

Kerugiannya, kemampuan menurun drastis, hiks :( Tadi balas sms temen di indo… ya  ampun, ngetik jadi lama banget. Pake mikir dan pake lama… jadi inget bapak/ibu yang suka bikin gemes kalau sms karena ngetiknya lama banget. Nah, sekarang kena batunya deh :p Terbukti memang berlatih itu perlu (tapi khusus untuk hal ini, rasanya ga rugi juga kehilangan kemampuan ini. Untung malah, jadi ga boros kan!)

Renungan

Ada hal menarik saat kuliah “tropical environmental health” beberapa hari yang lalu. Pak pengajar memperlihatkan salah satu penelitian soal penggunaan “latrine” atau toilet… salah satunya adalah: orang-orang yang tidak pernah melihat kondisi lain selain yang dia lihat sehari-hari (bahkan mungkin seumur hidupnya) akan terbiasa dengan kondisi yang dia hadapi, walaupun mungkin jorok dan menjijikan bagi orang lain. Penelitian itu menunjukkan bahwa orang-orang yang lebih “sadar” akan kebersihan dan perbaikan sanitasi biasanya adalah orang-orang yang pernah bepergian ke tempat lain dan melihat kondisi yang berbeda dan mengubah persepsinya terhadap sesuatu. Menarik (soalnya saya pikir ini bukan hanya soal sanitasi, tapi gaya hidup secara umum).

Hal lain yang menarik adalah soal “ketidakpedulian” terhadap sesuatu. Selama ini saya (bukan kita) lebih fokus pada daerah rural yang cenderung kurang diperhatikan dan dipinggirkan (dan ini jelas terjadi untuk banyak hal). Namun ternyata persoalan di daerah urban juga sama parahnya. Saya tahu kalau daerah-daerah “slum” di perkotaan bukan merupakan tempat yang layak huni, tapi saya jadi bingung memikirkan apa tindakan yang seharusnya diambil pemerintah untuk memecahkan persoalan ini? Ilustrasi yang diberikan oleh pengajar sangat mengerikan, karena dari daerah-daerah kecil itu, pencemaran air tanah bisa sangat parah dan bahkan bisa mencemari satu kota atau lebih luas lagi. Jangankan mimpi bisa minum air dari keran seperti di sini, punya air mengalir ke setiap rumah setiap hari saja masih menjadi impian bagi sebagian besar penduduk. Saya membayangkan tinggal di
Jakarta yang semrawut dan acapkali dilanda banjir, yang berarti: air limbah bercampur dengan air tanah. Ada satu foto pengolahan air limbah di sini (yang akan kami kunjungi minggu depan). Pada prinsipnya, di foto itu adalah proses pertama yaitu “pemisahan” air dari sampah-sampah besar seperti botol-botol atau kantung plastik. Bapak itu bilang, kalau di negara-negara berkembang bisa lebih banyak lagi, bahkan kadang ada bayi yang tersangkut di situ…. Ooh, tidaaaaak (*bikin mual*)

Inggris termasuk negara yang sudah melakukan pengolahan terhadap air limbah. Tapi duluuuu… sekitar tahun 1850-an, sungai Thames yang terkenal itu pernah tercemar dengan sangat parah sehingga anggota parlemen Inggris tidak bisa rapat karena tidak tahan dengan baunya (House of Parliament letaknya tepat di pinggir sungai Thames). Juga sebelumnya terjadi wabah cholera yang sangat parah. Singkat cerita, dilakukanlah perbaikan sistem… dan beberapa “trial n error”… jadi sistem pengolahan limbah dan suplai air bersih yang bisa langsung diminum ke rumah-rumah bukanlah suatu sulap yang terjadi dalam waktu singkat.

Kalau berpikir soal Ciliwung… atau Cikapundung di Bandung…. Masa sih masih harus menunggu seratus tahun lagi? Tapi musti mulai dari mana? (Ga usah bilang “mulailah dari diri sendiri bla bla bla"… karena, contoh,  kalau pun buang sampah dengan tertib tapi terus ga ada sistem pengolahan yang benar, gimana dong? Sistemnya yang ga ada!)

Ini bukan omelan, hanya sebuah renungan (selingan saat menulis essay untuk tropical environmental health)

Memilih

Maluku_picture_150_2 Maaf, postingan ini agak “berantakan” karena terlalu banyak ide di kepala tapi sulit menuangkannya.
Teman-teman bilang saya “picky”.. ya iya lah, memangnya memutuskan sesuatu itu gampang? Memilih itu berarti sudah tahu konsekuensi yang bakal ditanggung, termasuk yang baik dan buruk. Kalau singkatnya sih: sudah satu paket. Ga seru dong kalau hanya ingin yang senang-senangnya saja, walau pastinya udah pakai berdoaaa… semoga… semua baik-baik saja :)
Topik ini terlintas gara-gara obrolan bersama teman-teman di sini saat makan. Awalnya sih ngobrol soal kebiasaan traveling : seperti… hayooo kamu tipe seperti apa ? Apa tipe yang selalu melakukan riset terlebih dahulu, plus tanya-tanya dan kontak orang-orang untuk meminimalkan kejadian tak diinginkan? Atau tipe yang pilih tempat, packing, terus pergi ke stasiun (bis, kereta) atau airport dan melakukan perjalanan secara spontan? Atau kedua-duanya? Ternyata jawabannya bermacam-macam lho… Yang menarik, hampir semua (atau bisa dibilang semua) teman saya itu ya emang traveler. Udah keliling berbagai tempat di dunia tapi masih saja iri dengan pengalaman orang lain hehe Bisa-bisanya si teman yang udah jalan mencoba Inca Track di Macchu Piccu bilang merasa iri untuk wisata kuliner di Asia :) Sifat dasar manusia sih, tapi kan kita ga mungkin memperoleh segala yang kita inginkan.
Nah, gara-gara obrolan itu lah kami membahas soal “memilih” Jadi sebenarnya terlalu banyak pertimbangan sebelum memilih itu menguntungkan atau merugikan sih? Tergantung. Beberapa hal menarik yang disimpulkan dari pembicaraan kami adalah, memilih itu selalu sulit :D Terlalu banyak keinginan, terlalu banyak pilihan. Dan seperti tadi sudah dibilang, semua ada konsekuensinya. “when I was younger...” (maaf, saya diprotes ketika bilang ‘when I was young’, terutama oleh mereka yang sudah beruban dan umur kepala 4 atau 5. Kalau diterjemahkan secara bebas, komentarnya adalah: “Maksud lo?” Padahal saya memang sudah merasa tua lho...) ... lanjutkan lagi, dulu-dulu memilih rasanya “lebih” gampang. Banyak keinginan dan rencana, dan tinggal kerjakan mana yang lebih dulu. Seiring bertambah umur, konsekuensi makin rumit, apalagi setelah orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita berangsur-angsur dipanggil yang kuasa. Dan ada makhluk-makhluk baru yang menghiasi hidup kita dengan keajaiban di setiap harinya. Memilih menjadi suatu hal yang tak terhindarkan, dan selalu membutuhkan energi besar untuk melakukannya.
Walau sering kali bertindak impulsif, saya termasuk orang yang “picky”. Yaah, kalau ternyata pilihannya salah, dinikmati saja. Namanya juga manusia. Makanya perlu banyak-banyak berdoa kan. Kadang proses lebih penting dari hasil akhir (memangnya siapa yang tahu apa yang akan terjadi sebenarnya?)
Sebagai penutup, kami sempat bikin “kuis” soal alat transportasi yang paling digemari. Saya paling senang naik kapal laut. Yup, bener, kapal laut. Ga ada yang bisa ngalahin perasaan saat jangkar ditarik, terus meninggalkan pelabuhan. Terus sendirian di tengah laut (saya paling doyan duduk sendirian saat teman-teman lain sudah terlelap), hanya dikelilingi garis cakrawala. Memulai hari dengan sunrise dan ditutup dengan sunset. Kadang laut tenang bagai kaca, kadang juga badai. Membaca peta, melihat kompas, mengarahkan kemudi. Kemudian melihat garis pantai untuk pertama kali, berarti ada kehidupan yang lain, bertemu orang baru, beristirahat untuk kemudian bersiap-siap melanjutkan perjalanan kembali. Yup, life, itself, is a journey. Dan bersyukurlah kalau kita masih diberi kesempatan untuk memilih, karena banyak orang yang tidak mendapatkan keberuntungan itu. 

Hit the Woods.... Ruislip Woods

20080419_london07

Setelah mengunjngi museum, pameran lukisan dan foto, mengunjungi gedung-gedung tua dan atraksi lainnya, akhir minggu kemarin saya diajak teman untuk berjalan-jalan di “hutan”. Kami bertiga sepakat untuk berjalan daerah Hillingdon, tepatnya di tempat bernama "Ruislip Woods and Lido"  Agak jauh sih, ada di zone 6. Jadi, Sabtu pagi, saya berjalan kaki ke King’s Cross tube station (sekitar 5 menit), lalu menggunakan metropolitan line dan turun di Ruislip Manor (sekitar 45 menit). Sudah masuk musim semi tapi masih dingin. Ramalan cuaca sih bilang bakal hujan, tapi mengingat ini adalah Inggris, jadi kesempatan untuk cuaca cerah masih ada :)

Mark tentu saja sudah mempelajari buku petunjuk dan peta-nya. Asyik juga jadi “parasit” karena hanya tinggal jalan saja. Kata dia sih, kami bakal berjalan sekitar  11 km, mulai dari melintasi rumah-rumah gaya Inggris (dengan bata merah dan cerobong asap) dan kemudian masuk ke area reservasi Ruislip Woods itu. Karena kami berjalan dengan cukup cepat, jadi suhu tidak terlalu terasa dingin (mungkin  sekitar 8 derajat). Benar-benar menyenangkan menghirup udara segar dan berpapasan dengan orang-orang yang “lebih ramah”. Kami juga sempat melihat kereta api uap yang melintasi kawasan ini.

Di tengah-tengah perjalanan kami sempat tersesat. Di buku disebutkan bahwa rel kereta api akan berada di sebelah kanan kami, jadi kami bingung ketika menyadari bahwa rel ada di sebelah kiri. Semakin lama jalan, kok semakin aneh. Untung ada ibu-ibu yang sedang bawa jalan dua anjingnya yang memberitahu kami arah yang sebenarnya, walau ternyata tetap beda jalur juga sih. Bukan masalah besar, tapi kami (saya dan Carla, istri Mark) sempat menggoda Mark bahwa untuk ujian baca peta dia gagal mendapat A! hihi

Ohya, soal anjing lain lagi ceritanya. Saya memang tidak takut anjing, tapi kalau anjing tinggi yang loncat-loncat mau jilat muka sih beda masalah (apalagi saya kan pendek). Dan hari itu banyak sekali anjing-anjing yang “bersemangat” karena jarang melihat orang lain selain tuan tuan mereka. Malah, sempat waktu kami mau rehat sejenak dan makan croissant di satu meja piknik dekat danau, tiba-tiba kami dikelilingi oleh sekitar 6-7 anjing! Memang mereka cukup terlatih dan tidak  mengganggu. Mungkin karena mencium bau makanan saja. Untung tak lama anjing-anjing itu dipanggil oleh para pemiliknya.

Setelah menyelesaikan rute perjalanan, kami berjalan kembali ke Ruislip Manor untuk pulang kembali ke central London. Gara-gara sibuk mengobrol, lagi-lagi kami salah belok sehingga tiba-tiba menemukan sebuah gereja kecil (yang baguuus sekali) yang tidak kami temui dalam perjalanan awal. Namun kali ini kami tidak perlu bertanya, karena petunjuk dan papan jalan yang ada cukup jelas. Dari Ruislip Manor saya kembali ke King’s Cross dan berpisah dengan Mark dan Carla. Perjalanan yang menyenangkan!