My Photo

September 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30        

« March 2008 | Main | May 2008 »

Memilih

Maluku_picture_150_2 Maaf, postingan ini agak “berantakan” karena terlalu banyak ide di kepala tapi sulit menuangkannya.
Teman-teman bilang saya “picky”.. ya iya lah, memangnya memutuskan sesuatu itu gampang? Memilih itu berarti sudah tahu konsekuensi yang bakal ditanggung, termasuk yang baik dan buruk. Kalau singkatnya sih: sudah satu paket. Ga seru dong kalau hanya ingin yang senang-senangnya saja, walau pastinya udah pakai berdoaaa… semoga… semua baik-baik saja :)
Topik ini terlintas gara-gara obrolan bersama teman-teman di sini saat makan. Awalnya sih ngobrol soal kebiasaan traveling : seperti… hayooo kamu tipe seperti apa ? Apa tipe yang selalu melakukan riset terlebih dahulu, plus tanya-tanya dan kontak orang-orang untuk meminimalkan kejadian tak diinginkan? Atau tipe yang pilih tempat, packing, terus pergi ke stasiun (bis, kereta) atau airport dan melakukan perjalanan secara spontan? Atau kedua-duanya? Ternyata jawabannya bermacam-macam lho… Yang menarik, hampir semua (atau bisa dibilang semua) teman saya itu ya emang traveler. Udah keliling berbagai tempat di dunia tapi masih saja iri dengan pengalaman orang lain hehe Bisa-bisanya si teman yang udah jalan mencoba Inca Track di Macchu Piccu bilang merasa iri untuk wisata kuliner di Asia :) Sifat dasar manusia sih, tapi kan kita ga mungkin memperoleh segala yang kita inginkan.
Nah, gara-gara obrolan itu lah kami membahas soal “memilih” Jadi sebenarnya terlalu banyak pertimbangan sebelum memilih itu menguntungkan atau merugikan sih? Tergantung. Beberapa hal menarik yang disimpulkan dari pembicaraan kami adalah, memilih itu selalu sulit :D Terlalu banyak keinginan, terlalu banyak pilihan. Dan seperti tadi sudah dibilang, semua ada konsekuensinya. “when I was younger...” (maaf, saya diprotes ketika bilang ‘when I was young’, terutama oleh mereka yang sudah beruban dan umur kepala 4 atau 5. Kalau diterjemahkan secara bebas, komentarnya adalah: “Maksud lo?” Padahal saya memang sudah merasa tua lho...) ... lanjutkan lagi, dulu-dulu memilih rasanya “lebih” gampang. Banyak keinginan dan rencana, dan tinggal kerjakan mana yang lebih dulu. Seiring bertambah umur, konsekuensi makin rumit, apalagi setelah orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita berangsur-angsur dipanggil yang kuasa. Dan ada makhluk-makhluk baru yang menghiasi hidup kita dengan keajaiban di setiap harinya. Memilih menjadi suatu hal yang tak terhindarkan, dan selalu membutuhkan energi besar untuk melakukannya.
Walau sering kali bertindak impulsif, saya termasuk orang yang “picky”. Yaah, kalau ternyata pilihannya salah, dinikmati saja. Namanya juga manusia. Makanya perlu banyak-banyak berdoa kan. Kadang proses lebih penting dari hasil akhir (memangnya siapa yang tahu apa yang akan terjadi sebenarnya?)
Sebagai penutup, kami sempat bikin “kuis” soal alat transportasi yang paling digemari. Saya paling senang naik kapal laut. Yup, bener, kapal laut. Ga ada yang bisa ngalahin perasaan saat jangkar ditarik, terus meninggalkan pelabuhan. Terus sendirian di tengah laut (saya paling doyan duduk sendirian saat teman-teman lain sudah terlelap), hanya dikelilingi garis cakrawala. Memulai hari dengan sunrise dan ditutup dengan sunset. Kadang laut tenang bagai kaca, kadang juga badai. Membaca peta, melihat kompas, mengarahkan kemudi. Kemudian melihat garis pantai untuk pertama kali, berarti ada kehidupan yang lain, bertemu orang baru, beristirahat untuk kemudian bersiap-siap melanjutkan perjalanan kembali. Yup, life, itself, is a journey. Dan bersyukurlah kalau kita masih diberi kesempatan untuk memilih, karena banyak orang yang tidak mendapatkan keberuntungan itu. 

                            

Hit the Woods.... Ruislip Woods

20080419_london07

Setelah mengunjngi museum, pameran lukisan dan foto, mengunjungi gedung-gedung tua dan atraksi lainnya, akhir minggu kemarin saya diajak teman untuk berjalan-jalan di “hutan”. Kami bertiga sepakat untuk berjalan daerah Hillingdon, tepatnya di tempat bernama "Ruislip Woods and Lido"  Agak jauh sih, ada di zone 6. Jadi, Sabtu pagi, saya berjalan kaki ke King’s Cross tube station (sekitar 5 menit), lalu menggunakan metropolitan line dan turun di Ruislip Manor (sekitar 45 menit). Sudah masuk musim semi tapi masih dingin. Ramalan cuaca sih bilang bakal hujan, tapi mengingat ini adalah Inggris, jadi kesempatan untuk cuaca cerah masih ada :)

Mark tentu saja sudah mempelajari buku petunjuk dan peta-nya. Asyik juga jadi “parasit” karena hanya tinggal jalan saja. Kata dia sih, kami bakal berjalan sekitar  11 km, mulai dari melintasi rumah-rumah gaya Inggris (dengan bata merah dan cerobong asap) dan kemudian masuk ke area reservasi Ruislip Woods itu. Karena kami berjalan dengan cukup cepat, jadi suhu tidak terlalu terasa dingin (mungkin  sekitar 8 derajat). Benar-benar menyenangkan menghirup udara segar dan berpapasan dengan orang-orang yang “lebih ramah”. Kami juga sempat melihat kereta api uap yang melintasi kawasan ini.

Di tengah-tengah perjalanan kami sempat tersesat. Di buku disebutkan bahwa rel kereta api akan berada di sebelah kanan kami, jadi kami bingung ketika menyadari bahwa rel ada di sebelah kiri. Semakin lama jalan, kok semakin aneh. Untung ada ibu-ibu yang sedang bawa jalan dua anjingnya yang memberitahu kami arah yang sebenarnya, walau ternyata tetap beda jalur juga sih. Bukan masalah besar, tapi kami (saya dan Carla, istri Mark) sempat menggoda Mark bahwa untuk ujian baca peta dia gagal mendapat A! hihi

Ohya, soal anjing lain lagi ceritanya. Saya memang tidak takut anjing, tapi kalau anjing tinggi yang loncat-loncat mau jilat muka sih beda masalah (apalagi saya kan pendek). Dan hari itu banyak sekali anjing-anjing yang “bersemangat” karena jarang melihat orang lain selain tuan tuan mereka. Malah, sempat waktu kami mau rehat sejenak dan makan croissant di satu meja piknik dekat danau, tiba-tiba kami dikelilingi oleh sekitar 6-7 anjing! Memang mereka cukup terlatih dan tidak  mengganggu. Mungkin karena mencium bau makanan saja. Untung tak lama anjing-anjing itu dipanggil oleh para pemiliknya.

Setelah menyelesaikan rute perjalanan, kami berjalan kembali ke Ruislip Manor untuk pulang kembali ke central London. Gara-gara sibuk mengobrol, lagi-lagi kami salah belok sehingga tiba-tiba menemukan sebuah gereja kecil (yang baguuus sekali) yang tidak kami temui dalam perjalanan awal. Namun kali ini kami tidak perlu bertanya, karena petunjuk dan papan jalan yang ada cukup jelas. Dari Ruislip Manor saya kembali ke King’s Cross dan berpisah dengan Mark dan Carla. Perjalanan yang menyenangkan!

Buying book

I've got email: My favourite 2nd hand bookshop is closing down next week:
Quinto
63 Great Russell Street
(opposite British Museum)
 
All books half price, last day of trade Wednesday 16th April

Ouch! And British Museum is only 20 minutes walk from my dormitory. I must go! I completely forgot my promise to myself to stop buying books. I bought 3 books already this week, and I have more than 20 books in my bookself :D Well, I have to think how to send all those books to my home later on (and that still 6 months to go), but it can wait, eh? Let's go hunting!!!

Lowongan Pekerjaan

Ada sederet pertanyaan standar buat orang-orang Indonesia, terutama yang sudah berumur: Sudah menikah? Sudah punya anak? Dan kalau kita bilang ”belum”  (jangan coba-coba jawab “tidak” hehe).. biasanya akan bertambah dengan “kenapa?” dan sederet pertanyaan lanjutan hahaha sebenarnya bukan hanya di Indonesia, tapi kayaknya di negara-negara barat sini ga sih… katanya ga sopan, makanya saya cukup senang di sini hehe :D

Tapi buat saya, ada pertanyaan standar lain yang semakin sering saja dilontarkan teman-teman dan keluarga: “Kapan pulang? Nanti mau kerja di mana?” Lama-lama males juga jawabnya, walaupun yang nanya beda-beda. Soalnya nambah topik yang musti dipikir, kayak sekarang belum cukup sibuk saja.

Ok, jadi jawabnya: sekolah selesai September minggu ke-3, tapi rencana pulang oktober awal. Kerja di mana? Belum tahu karena saya sekarang statusnya pengangguran hehe Pastinya sih pulang ke Indonesia (walaupun tiap hari dikirim lowongan pekerjaan jadi ekspat, menggiurkan! Tapi tetap berencana balik ke Indonesia, jangan khawatir).

Soal kebiasaan baca lowongan pekerjaan, sebenarnya lucu juga, karena ternyata itu jadi salah satu kebiasaan “buruk” saya setelah lulus jadi dokter dulu. Terutama baca kompas hari sabtu dan minggu hehe (sama kan? :) ) Dulu doyan menggunting iklan, trus dipasang di kamar. Beberapa kayaknya masih ada di kamar di Bandung, kertasnya sampai sudah menguning. Dan kebiasaan itu ga berhenti sampai udah beneran dapat pekerjaan, bahkan dulu ibu bos pernah usil nanya: kenapa kamu selalu baca lowongan pekerjaan? Hehe ga tahu juga, tapi kadang seru sih, dan ujung-ujungnya bisa kasih tahu ke teman. Siapa tahu jodoh mereka kan?

Balik lagi ke soal mau kerja di mana, tergantung apa ada yang menawari pekerjaan. Tadi malam sempet chatting sama J soal kerja. Alhamdulillah sampai sekarang saya tidak menerima pekerjaan karena faktor uang, yang penting enjoy. Uang Insya Allah akan datang dengan sendirinya kalau kita berkerja baik, itu yang saya percaya. Soal enjoy pekerjaan… pikir-pikir, ternyata saya paling senang waktu kerja di Maluku dulu. Soalnya saya cinta sekali laut dan dapat kesempatan tinggal di atas kapal dan berlayar hampir setiap hari. Impian jadi nyata, bisa keliling Maluku mulai dari Ternate sampe Banda Neira, mulai dari Buru sampai Seram Timur… termasuk merasakan badai, melintasi Laut Banda yang warnanya biru tua saking dalamnya, lihat lumba-lumba, paus bahkan ikan duyung…. Lho, ini kerja jadi dokter atau agen perjalanan? Hahaha

Ya gitu deh… Nah, gimana, ada yang mau menawari saya pekerjaan?