Berpikir
London dingin sekali hari ini, dan hujan. Saya menggigil karena hanya menggunakan t-shirt dan sweater. Sok jago. Ramalan cuaca bilang temperatur hari ini sekitar 8 derajat. Gila. Setelah minggu lalu sempat 27 derajat dan 2 hari lalu drop menjadi 12 derajat. Saya sudah cukup lelah dengan diri sendiri yang sangat moody.. dan perubahan cuaca di sini hanya memperparah kondisi saja. Sambil berjalan, dari sudut mata saya melihat banyak orang yang merokok di luar gedung… Tidak tertarik sama sekali. Pikiran saya tidak berada di sini.
Dua hari lalu saya dan 2 teman mengobrol seru sekali. Satu asal Kanada (A) dan satu asal Afganistan (F). A baru kembali dari Oxford setelah mendapat panggilan interview dan melakukan presentasi untuk salah satu tawaran perkerjaannya.. dan F bercerita tentang diploma tropical medicine yang baru dia dapat (satu lagi contoh gila teman-teman di sini… alih-alih “Easter break”, dia malah mengambil kursus singkat untuk ambil diploma ini). Kebetulan saat itu saya sedang pakai sweater dengan lambang salah satu lembaga PBB untuk anak-anak, jadilah kami mengobrol mengenai rencana setelah lulus. Topik lama yang selalu baru. Namun teman F ini memberikan opini yang membuat kami berpikir.
A menanyakan pendapat kami tentang tawaran pekerjaan yang dia terima. Sebenarnya sangat menarik, tapi dia masih kurang sreg karena dia inginnya bekerja untuk perencanaan, monitoring, evaluasi. Do the right thing since the very beginning. Dia memang pernah bercerita soal proyek dia (nutrisi) dengan sebuah institusi pendidikan yang kacau balau gara-gara tidak melakukan konsultasi dengan masyarakat. Bukan salah dia kareana dia bergabung setelah proyek berjalan, tapi dia bisa dibilang menjadi “martir” karena harus berhadapan dengan masyarakat dan menjelaskan semua hal ketika keadaan menjadi parah. Nah, kalau F ini lain lagi. Saya salut sama dia karena dia masih sangat sopan dan bijak walaupun kami tahu dia sangat marah soal “invasi” yang terjadi di negaranya, bahkan sampai sekarang. F ini dokter anak. Dia beralih ke public health karena dia melihat kebutuhan yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir. Dia bilang, walaupun punya rencana jangka panjang, dia tidak bisa berencana terlalu lama, misal 10 tahun. Harus fleksibel. Coba lihat apa yang terjadi di Afganistan dalam 5 tahun terakhir. Dia ga bilang bahwa semua rencana dia berantakan… tapi dia bilang bahwa kita selalu harus siap dengan perubahan. Suatu hal yang sangat diresapi kebenarannya (apalagi kami berdua sama-sama belajar tentang “conflict and health” semester lalu).
Mantan bos pernah “mengajari” saya menggambar peta soal pilihan-pilihan hidup. Salah satu alasan kenapa sekarang saya ada di sini, dan kemana kira-kira arah setelah lulus. Tapi entahlah, tadi malam banyak sekali hal yang beradu dalam pikiran saya. Beberapa hal penting yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir membuat saya berpikir untuk mendisain ulang peta saya. Tapi terus kemana? Bagaimana? Apakah saya berani? Apa saya siap?
Dan hujan masih saja turun dan saya masih terus berjalan. Deep sigh.


Comments