Ada hal menarik saat kuliah “tropical environmental health” beberapa hari yang
lalu. Pak pengajar memperlihatkan salah satu penelitian soal penggunaan “latrine”
atau toilet… salah satunya adalah: orang-orang yang tidak pernah melihat
kondisi lain selain yang dia lihat sehari-hari (bahkan mungkin seumur hidupnya)
akan terbiasa dengan kondisi yang dia hadapi, walaupun mungkin jorok dan
menjijikan bagi orang lain. Penelitian itu menunjukkan bahwa orang-orang yang
lebih “sadar” akan kebersihan dan perbaikan sanitasi biasanya adalah
orang-orang yang pernah bepergian ke tempat lain dan melihat kondisi yang
berbeda dan mengubah persepsinya terhadap sesuatu. Menarik (soalnya saya pikir
ini bukan hanya soal sanitasi, tapi gaya hidup secara umum).
Hal lain yang menarik adalah soal “ketidakpedulian” terhadap
sesuatu. Selama ini saya (bukan kita) lebih fokus pada daerah rural yang
cenderung kurang diperhatikan dan dipinggirkan (dan ini jelas terjadi untuk
banyak hal). Namun ternyata persoalan di daerah urban juga sama parahnya. Saya
tahu kalau daerah-daerah “slum” di perkotaan bukan merupakan tempat yang layak
huni, tapi saya jadi bingung memikirkan apa tindakan yang seharusnya diambil
pemerintah untuk memecahkan persoalan ini? Ilustrasi yang diberikan oleh
pengajar sangat mengerikan, karena dari daerah-daerah kecil itu, pencemaran air
tanah bisa sangat parah dan bahkan bisa mencemari satu kota atau lebih luas lagi. Jangankan mimpi
bisa minum air dari keran seperti di sini, punya air mengalir ke setiap rumah setiap
hari saja masih menjadi impian bagi sebagian besar penduduk. Saya membayangkan
tinggal di
Jakarta yang semrawut dan acapkali dilanda banjir, yang berarti: air limbah bercampur
dengan air tanah. Ada satu foto pengolahan air limbah di sini (yang akan kami kunjungi minggu depan).
Pada prinsipnya, di foto itu adalah proses pertama yaitu “pemisahan” air dari
sampah-sampah besar seperti botol-botol atau kantung plastik. Bapak itu bilang,
kalau di negara-negara berkembang bisa lebih banyak lagi, bahkan kadang ada
bayi yang tersangkut di situ…. Ooh, tidaaaaak (*bikin mual*)
Inggris termasuk negara yang sudah melakukan pengolahan
terhadap air limbah. Tapi duluuuu… sekitar tahun 1850-an, sungai Thames yang
terkenal itu pernah tercemar dengan sangat parah sehingga anggota parlemen
Inggris tidak bisa rapat karena tidak tahan dengan baunya (House of Parliament
letaknya tepat di pinggir sungai Thames). Juga
sebelumnya terjadi wabah cholera yang sangat parah. Singkat cerita,
dilakukanlah perbaikan sistem… dan beberapa “trial n error”… jadi sistem
pengolahan limbah dan suplai air bersih yang bisa langsung diminum ke rumah-rumah bukanlah suatu sulap yang terjadi dalam waktu singkat.
Kalau berpikir soal Ciliwung… atau Cikapundung di Bandung…. Masa
sih masih harus menunggu seratus tahun lagi? Tapi musti mulai dari mana? (Ga
usah bilang “mulailah dari diri sendiri bla bla bla"… karena, contoh, kalau pun buang sampah dengan tertib tapi
terus ga ada sistem pengolahan yang benar, gimana dong? Sistemnya yang ga ada!)
Ini bukan omelan, hanya sebuah renungan (selingan saat
menulis essay untuk tropical environmental health)
Recent Comments